Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kumpulan Puisi Ewanora Afiza

C A N D R A M A W A    C I N T A 

Gambar
Eka Wanora Afiza | Kader PMII Rayon Al-Farabi Cabang Kota Mataram C A N D R A M A W A    C I N T A  Ku ketuk lentera hatimu Bukan lagi di depan pintu Tergenang rasa tak direstui Namun perlahan kulewati Cintaku kini; tetaplah kau abadi Secercah cahaya gejola; Terlintas dalam jendela syurga Awan melingkari pangkuan indahmu; serta belantara mahakarya menyambut pesonamu  Merah merona bibirmu tersenyum Diriku terarah kagum Hempasan radang hati Hapuskan kelamnya cinta ini Sesayatkan patah-patah Persisnya hakulah Tak menjalar menggaduh-gaduh Sekali genggam runtuh Ku teteskan tinta membuat literasi Hitam pekat sangat Berkalut terbuntut Namun; cinta ini.. Tak tergoyahkan Walaupun dahsyatnya badai menerpa Tanpa kisaran Namun terbungkam Tetaplah ku junjung Tanpa banyak untaian aksara Cubuh itu.. sungguh terasa Sinarnya lembayung menerka Afeksiku tak pantas Bukan sayang lagi; namun apektif Datang renjana senja Bising mengarah ge...

Taklukku Tidak Lagi Manja

Gambar
Taklukku Tidak Lagi Manja Eka Wanora Afiza Detik ini adalah tanda; jiwa serentak bergelora Tatapan jauh memberontak; pada penglihatan yang terletak Di pelubuk hati menjelma Terseret pada masa depan yang sudah tersedia Pada diri; Menulusuri jati diri-Yang sebenarnya akan tetap ada Kebencian, kegelapan bathin menerka; Menghambat diri mengkerahkan segala isi pikiran Dengan tentunya menjunjung martabat semangat Tindasan  semakin melemah; Tak mampu mengikat rasa kemalasan; Namun ketika perjuangan sudah mulai berkobar; maka jalanlah! Jangan pernah berhenti; Tetap pada satu tekad, rasa dan keinginan membara diri Detik ini adalah tanda; Kobarnya terus membentang usaha Terpeleset jauh dari zona nyaman yang pernah mengikat; pada jiwa Rongga dada mendebar Menusuk pikiran kemudian terpancar Ketitik wadah yang dimana-bernamakan masa; Bukan kekelaman namun masa depan Meninggalkan  tirah itu; tak lagi rasa malas mencekam-terbang terbawa debu Tak lagi berkela...

Riuh Kota, Hingga Menulis Tentangnya Juga

Gambar
Riuh Kota, Hingga Menulis Tentangnya Juga Eka Wanora Afiza Di tanah kota yang bising Nampaknya aku terlihat seperti orang asing Wajah-wajah orang yang tatapan sinis Dan ada juga bertopeng manis Dari arah timur kuberlaju, diarah barat ketemukan titik dimana Aku harus mewujudkan semua Mimpi yang sempat terbaca Merangakul suasana-suasana yang tercekam akan riuhnya kehidupan kota Lalu lalang kendaraan yang berselewanan Ku telusuri arah dari pojokan samping gerbang kampus Dengan rasa tiada pupus Ku menatap dari arah barat, dan menemukan segerombolan orang Membakar sampah, dengan melumatkan kata-kata pedas Ternyata mereka sedang menegakkan keadilan, Di lain tempat, Adapula segerombolan orang yang sedang asik menari-narikan tangannya Melontarkan beberapa pendapat Dan ada juga mendengarkan dengan seksama Ku berpikir, ke dasar diam ku mencoba Layaknya ini adalah tempat yang strategis, menjunjung harap,Dengan sejuta senyum, mendambakan mimpi yang masih bergantungan R...

Menghantui Jejak Malam

Gambar
Menghantui Jejak Malam Eka Wanora Afiza Dia terlihat begitu menyeramkan Tak pernah terdiam dalam melakukan sesuatu yang ia inginkan Sayap yang begitu hitam Menaklukan keindahan dengan mata yang tajam Suaranya cukup menakutkan para penikmat malam Laksana sayap-sayap yang dikibarkan Membuat para pecinta malam tidak bisa kelayapan Hinggapnya santai Di pepohonan yang tidak punya rantai Percikan sinar bulan yang begitu tangguh Memberikan suasana tambah gaduh Tak mampu terbingkai Dalam waktu yang cukup singkat, Heningnya malam mendebarkan ketukan sang penjaga kuburan Membuat takut menimbulkan keresahan Ia terus terbang melayang Gelombang malam mengundang, Angin yang sangat dingin Merasuk ke dalam cairan merah, berbalut kepalsuan Hingga membuatnya mengental Mengusik hati tanpa permisi Tanpa menyadari, Arti kepahaman sang perindu yang hakiki Lepak timur, 23 Juni 2019

PARAFIN

Gambar
P A R A F I N Eka Wanora Afiza Kucoba intip setiap arah api lilin Terbawa hembusan lalu lalang angin Terangkai indah dari kata Hanya buih cahaya semata Hanya terdiam Angin selalu menginjak muka malam, Dari lubang-lubang yang kelam Wajah yang sangat belungu dari kejaran yang terhujam Teriring mengalir lembut tetesan lilin yang terbakar suram Malam yang kelam Kuterdiam mendengar Suara-suara nyaring dari luar, Bising-bising anginpun mengobrak-abrik malam Ku tatap lilin semakin lama semakin redup dan kuyup Dan ternyata itulah gambaran dari hidup Lilin yang mungil Membawaku merasa hati yabg terpencil Rasanya ingin kekal dan abadi Namun tiadalah arti 'Kring-kring', suara jam berdering, Di dinding, Jarumnya tepat pada arah ia berdiri Suasananya semakin sunyi dan sepi Tiada lagi yang berbunyi Lepak Timur, 26 Juni 2019